Klarifikasi Soal Anak Dikeluarkan Sekolah Usai Posting Menu MBG

Kasus viral di Kabupaten Kampar soal seorang anak yang disebut dikeluarkan dari sekolah usai orang tuanya memposting keluhan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata berujung klarifikasi resmi: tidak ada pemecatan atau keputusan administratif terhadap status siswa. Kesalahpahaman antarpihak adalah akar isu ini. Berikut fakta lengkapnya dan penjelasan pihak berwenang. detikHealth+1


Klarifikasi Soal Anak Dikeluarkan Sekolah Usai Posting Menu MBG

Pada akhir Desember 2025, sebuah unggahan orang tua murid di Kabupaten Kampar, Riau, yang membagikan foto menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi viral di media sosial. Dalam video dan curhatannya, ibu bernama Nurul Oriana sempat menyatakan bahwa anaknya dikeluarkan dari sekolah (PAUD) setelah unggahan itu menyebar, memicu perhatian publik terkait kebebasan berpendapat dan hak pendidikan. Konteks – Baca Teks Sesuai Konteks

Namun setelah penjelasan resmi dari pihak berwenang, cerita versi awal ini ternyata penuh miskomunikasi dan kesalahpahaman yang butuh diluruskan. detikHealth


Bagaimana Cerita Awalnya?

Nurul mengunggah foto paket menu MBG yang diterima anaknya di satu lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kampar. Dalam unggahan itu, ia menyebut menu yang diterima sebagai “rapelan” (seolah untuk beberapa hari sekaligus), berharap ada perbaikan agar kualitas dan isi menu lebih sesuai standar gizi. Konteks – Baca Teks Sesuai Konteks

Unggahan ini kemudian menyebar, dan di media sosial sejumlah akun mengklaim bahwa pihak sekolah mengeluarkan anaknya dari PAUD akibat kritik itu. Nurul sempat emosional di video viralnya, bahkan meminta maaf kepada anaknya dan menyebut dampak postingan terhadap pendidikan anaknya. Konteks – Baca Teks Sesuai Konteks


Klarifikasi dari Sekolah dan BGN

Pihak Badan Gizi Nasional (BGN), sekolah PAUD, dan kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat kemudian melakukan pertemuan klarifikasi resmi bersama Nurul untuk mengurai persoalan sebenarnya. Hasil pertemuan itu menjadi dasar klarifikasi yang disampaikan publik pada 29 Desember 2025. detikHealth

Poin penting dari penjelasan tersebut adalah:

  1. Tidak ada keputusan administratif untuk mengeluarkan anak dari sekolah.
    Pihak sekolah dan BGN menegaskan bahwa anak yang bersangkutan tetap terdaftar sebagai siswa PAUD dan tidak pernah diberhentikan atau diputuskan keluar secara resmi. detikHealth

  2. Narasi awal berawal dari miskomunikasi.
    Informasi bahwa anak itu “dikeluarkan” ternyata muncul dari kesalahpahaman dalam percakapan grup WhatsApp internal sekolah dan bukan dokumen atau keputusan resmi dari lembaga pendidikan. detikHealth

  3. Tidak ada ancaman atau intimidasi formal.
    Kepala SPPG memastikan tidak ada instruksi atau tekanan kepada orang tua atau siswa sekolah terkait unggahan ke media sosial. Program MBG tetap berjalan dan tidak mengekang ruang aspirasi orang tua. Konteks – Baca Teks Sesuai Konteks

  4. BGN menegaskan prinsip hak anak.
    Kepala BGN Dadan Hindayana menekankan bahwa program MBG tidak boleh menimbulkan dampak negatif kepada hak anak, termasuk hak memperoleh pendidikan. Program ini dirancang untuk melindungi dan mendukung kesehatan anak. detikHealth


Apa Itu Program MBG?

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah inisiatif pemerintah yang dikelola oleh BGN untuk menyediakan makanan bergizi bagi anak sekolah, termasuk selama periode libur panjang seperti libur Natal dan Tahun Baru. Tujuan utamanya adalah memenuhi kebutuhan nutrisi anak agar tumbuh sehat dan mendukung proses belajar di sekolah tanpa beban biaya makan tambahan bagi orang tua. theindonesia.co

Program ini melibatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab memastikan makanan memenuhi standar nutrisi dan kebersihan. Antara News


Mengapa Bisa Terjadi Miskomunikasi?

Kesalahpahaman ini sebagian besar berasal dari persepsi yang salah terhadap pesan di ruang obrolan internal sekolah serta tak langsungnya komunikasi antara sekolah, orang tua, dan BGN. Ketidaktahuan terhadap konteks menu rapelan — yang sebenarnya merujuk pada penghitungan porsi dan jadwal — memperkuat kekeliruan pemaknaan di media sosial. detikHealth

Situasi ini menjadi pengingat bahwa persoalan kompleks seperti program nasional dan sekolah seharusnya ditangani melalui koridor komunikasi resmi agar mitos dan informasi keliru tidak menyebar luas di publik. detikHealth


Intinya: Fakta vs Viral

Kasus ini sebenarnya menunjukkan bahwa menyampaikan aspirasi melalui media sosial tetap dibolehkan, tetapi perlu disertai klarifikasi dan komunikasi resmi agar tidak memunculkan misinformasi yang bisa memicu keresahan yang tidak perlu. detikHealth


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *